FOLLOW ME ☺

Label

Senin, 02 Juli 2012

Chp. 1 Prolog - Envy or Friendship?

Hujan di luar rumah begitu deras, Vania memandangi dari jendela rumahnya. Dua minggu lagi sekolah dimulai kembali, tidak jarang teman-teman Vania yang termasuk anggota OSIS tidak menghubunginya. Vania mulai bosan, akhirnya ia membuka laptopnya. Saat membuka facebook ia memandangi foto profilnya, ia berambut sedang, poninya panjang sekali dan dibawa ke samping. Ia begitu cantik menggunakan pakaian berlengan panjang itu, sayangnya telah dibuang oleh Ibunya beberapa tahun yang lalu tanpa sengaja.
Setelah selesai membuka social network tersebut, Vania bergegas ke dapur untuk mencari makan. Perutnya sudah nge-band. Saat melewati ruang tamu, Vania menemukan surat. Sepertinya sudah 5 hari tak tersentuh, lalu Vania bergegas mengambilnya. Saat Vania membalik amplop surat tersebut tertulis:

Dear Ms. Vania Margaretha Xenofilla
Number 8 Gatot Subroto 
Kebun Lebak, Jakarta, Indonesia
11053

Mata Vania memandangi surat itu dengan ekspresi terkejut. Walaupun ia sangat mahir menggunakan bahasa inggris, ia tidak pernah kenal dengan orang di luar negeri. Tanpa pikir panjang lagi, Vania membuka surat tersebut dan tertulis:

Dear Vania,
 I bet you are a bit confused to read my letter. Well, sorry I didn't tell you anything. By the way I'm Naila, my parents are from Indonesia too. I've read your story about "The Fiction of Fiction" you have made. -

Vania terhenti sejenak membaca, cerita "The Fiction of Fiction" itu sudah dibuat olehnya bertahun-tahun yang lalu. Tetapi Vania tidak ingin berpikir terlalu banyak lalu lanjut membaca surat. 

- I've visited your blog too. And the reason I'm sending this letter to you is because I want to be friend with you. 
I live in California, USA. I'm 15, I'm actually a bit bored of my age. I study at Santa Barbara High School (It's summer holiday now). I know just sending you this letter was spending loads of time, I thought it could be 2 weeks.
Well, Tell me about you, and your family too. By the way I have an older sister her name is Citra, she's 18.
Well that all for now, send back soon please...
Sincerely,

Naila
P.S You can send back to my e-mail though. naila_fransisca90@yahoo.com

Setelah menutup surat tersebut, Vania langsung bergegas ke kamarnya dan mengambil laptopnya lalu mulai mengetik:

To: naila_fransisca90@yahoo.com
Cc:  -
Title: Sending back your letter

Dear Naila,
I would be really glad to be you friend, I'm 15 too. Next month I'm 16. I study at Global International School, I'm having holiday too! I have an older brother, his name is Ferdian, I usually call him Ferdy. He's 20, he's way too old =D. By the way, can you speak Indonesian? I'd prefer using Indonesia language.
Sincerely,

Vania

Setelah mengirim e-mail tersebut, Vania baru ingat dengan perut laparnya dan bergegas kembali ke dapur. Ketika melihat jam, ternyata sudah menunjuk pukul 5 sore. Artinya Kak Ferdi akan segera datang, dan tentu saja karena pintu rumah depan langsung terbuka. Munculah sosok Kak Ferdi yang selalu menunjukan raut muka seperti aku-cape-banget-hari-ini dan berteriak seperti biasa "Van! Ambilkan aku air!"
Keesokan paginya Vania langsung membuka laptop untuk melihat balasan e-mail dari Naila. Dugaannya benar, Naila sudah membalas e-mailnya.

From: Naila Fransisca
To: vania.margaretha@yahoo.co.id

Aku bisa kok menggunakan bahasa Indonesia jika kamu lebih suka :), aku menggunakan bahasa Inggris di surat itu karena ingin menguji kemahiranmu dalam bahasa Inggris.

Selesai membaca surat, Vania menutup laptopnya dan bergegas ke ruang tamu untuk mengambil surat dari Naila kemarin. Vania menyimpan surat tersebut di kamarnya lalu bergegas ke dapur untuk mencari sarapan. Saat melihat jam, Vania terkejut karena jam sudah menunjuk pukul 9 pagi. Karena kesiangan bagun, Vania terpaksa membuat sarapan sendiri, karena jika Vania bangun lebih siang dari pukul 7.30 maka sarapan akan dihabiskan agar tidak mubazir.
Setelah sarapan, Vania kembali ke kamarnya dan membalas e-mail Naila.

Replay to Naila: Kalau tau begitu aku sudah menggunakan bahasa Indonesia dari awal, tapi sudahlah. Oya, ceritakan tentang kehidupan di sana dong. Aku juga ingin tahu tentang kehidupan di luar negeri. 

* * *

Sudah hampir dua minggu Vania dan Naila bersahabat-pena (menggunakan e-mail), beberapa hari lagi Vania akan mulai sekolah kembali. Karena itulah, ia harus berhenti berkiriman e-mail dengan Naila. Ia harus bersiap-siap untuk tahun ajaran baru, yaitu seperti membeli buku tulis, sepatu, tas, dan terkadang seragam. Vania sudah hampir lupa tentang Naila karena kesibukannya mempersiapkan alat-alat tulis dan sebagainya untuk keperluan sekolah. Sampai kak Ferdi datang dengan wajah ingin tahu.
"Van, siapa itu Naila?" tanya kak Ferdi
"Temanku kak, kenapa emangnya?" kata Vania sambil menyetrika seragam sekolah barunya.
"uh? enggak cuma mau nanya aja." kata kak Ferdi dengan gugup dan langsung pergi dari kamar Vania.
Vania hanya mengangkat alisnya melihat perilaku kakaknya ini. Tidak biasanya kak Ferdi seperti ini. Tetapi Vania hanya melanjutkan merapikan seragam barunya dan menaruhnya di lemari.
Keesokan harinya, Vania sudah bangun pukul 5 pagi dan langsung menyiapkan beberapa buku tulis yang telah disiapkannya. Pukul 6.30, Vania sudah siap dan memanggil Pak Bejo untuk mengantarkannya ke sekolah. Ketika tiba di gerbang sekolah, ia seperti lupa rasanya bersekolah saking lamanya ia tidak ke sekolah. Lalu Vania menuju papan pengumuman untuk melihat hasil rolling kelas. Ternyata tahun ini Vania masuk kelas 11.3, sementara tahun lalu ia kelas 10.2. Sesungguhnya itu tidak ada masalah bagi Vania karena semua kelas tetap berstandar Internasional. Setelah melihat papan pengumuman, Vania mengalihkan pandangannya ke Denah Sekolah untuk mencari kelas 11.3. Kelas tersebut terletak di pojok sekolah, sebelah kantin dan perpustakaan, dan di depan ruang guru.
Setelah berusaha mengingat letak kelas tersebut, Vania bergegas ke kelas tersebut. Di tengah jalan ia bertabrakan dengan seorang laki-laki. Rambutnya di cepak, berdagu persegi, menggunakan jam bermerek, dan sangat tampat menurut Vania.
"Eh, maaf ya... aku gak liat tadi. Kamu gak apa-apa kan?" kata laki-laki tersebut sambil membantu Vania bangun.
"Ya, aku gak apa-apa kok." kata Vania sambil memungut beberapa bukunya yang jatuh.
"Oya, aku Glen. Kamu siapa?" kata Laki-laki itu sambil menjulurkan tangannya. Lalu Vania mengambil tangan Glen yang dijulurkan tersebut. "Aku Vania" katanya sambil tersenyum. Glen tersenyum kembali dan melepas tangan Vania. "Ngomong-ngomong, kamu kelas apa?" tanya Glen sambil berjalan. "11.3" kata Vania dengan nada datar. Tetapi, Glen langsung berhenti berjalan. Wajahnya seperti baru mendapat 10 kado ulang tahun dari setiap orang.
"Kita sekelas dong! Ya ampun, ayo cepat! Sepertinya kamu yang terakhir datang. Kelas tadi sudah hampir penuh. Nanti kamu tidak dapat tempat duduk lo!" Kata Glen mengambil pergelangan tangan Vania sambil berlari ke arak kelas 11.3. Vania menyempatkan untuk melihat jam tangannya. Ya tuhan! Pikir Vania. Jamnya sudah menunjukan pukul 7.25 sementara kelas dimulai pukul 7.30.
Ketika Vania sampai di depan kelas tersebut, ia memandangi kelas tersebut dengan seksama. Kelas tersebut cukup luas, bercat kuning-muda dan berisi sekitar enam-belas meja dan tiga-puluh-dua kursi yang terlihat sudah penuh. Vania melihat Glen mengambil tempat duduknya pada kursi ke-tiga dari depan dan ke-dua dari kanan (arah dari depan kelas). Glen duduk dengan seorang laki-laki yang wajahnya seperti Glen hanya saja matanya berwarna hijau yang sangat khas di wilayah Indonesia ini, dan hidungnya lebih mancung dibandingkan dengan Glen. Laki-laki tersebut sepertinya mengetahui bahwa Vania memperhatikannya, lalu ia mengedipkan mata kanannya. Lalu Vania tidak menghiraukannya dan berkeliling kelas untuk mencari tempat duduk yang kosong untuknya.
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Vania menemukan tempat duduk di pojok kiri kelas. Ia duduk sendiri. Di depannya duduk seorang laki-laki dan seorang perempuan. Perempuan tersebut menoleh ke arah tempat duduk Vania. Wajahnya sangat cantik, seperti 'Taylor Swift' pikir Vania. Hanya saja rambutnya berwarna hitam, se-dada, dan lurus. Perempuan tersebut tersenyum sambil menjulrkan tangannya, lalu berkata "Aku Laura. Laura Yusfana. Yusfana adalah nama keluarga. Kamu siapa?" Ia bertanya dengan suara yang sangat lembut.
"Aku Vania" Kata Vania sambil mengambil tangan Laura. "Vania Xenofilla." tambahnya sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut